Pengertian CAPM adalah Model Hitung Antara Resiko Dan Keuntungan

bagikan posting ini:

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Apa itu CAPM?

Capital Asset Pricing Model atau CAPM adalah adalah hubungan sistematis antara resiko dan perkiraan pengembalian dari aset, terutama saham. CAPM banyak digunakan dalam dunia finansial untuk menilai saham yang beresiko dan menghitung perkiraan pengembalian dari resiko aset tadi dan biaya modal.

Kita akan membahas dengan lengkap pengertian dari CAPM, keuntungan menggunakannya, rumus hingga contoh perhitungan. Jika kamu ingin tahu lebih dalam tentang CAPM, kita akan membahas model ini lebih lanjut dalam asumsi dan teori dari Capital Asset Pricing Model. Semoga bermanfaat.

Pengertian CAPM

Pengertian CAPM dalam sebuah model bisa menjelaskan hubungan antara perkiraan pengembalian dan resiko investasi dari sebuah aset. Dengan menggunakan model ini, kita bisa mengetahui potensi pengembalian dari sebuah saham dan resikonya dibandingkan dengan kondisi resiko pasar yang ada saat ini.

CAPM cukup baik untuk menilai resiko dan keuntungan dari modal aset mulai dari satu saham, proyek investasi hingga aset portofolio sekalipun. Karena itu penerapannya tidak hanya terbatas pada saham saja, meski pada praktiknya lebih banyak diterapkan oleh investor pada satu saham tertentu.

Mengapa Perlu CAPM?

Formula CAPM banyak digunakan untuk menghitung WACC atau Weighted Average Cost of Capital, dimana CAPM menghitung harga suatu saham. WACC pada akhirnya dapat lebih lanjut digunakan untuk menentukan Net Present Value atau NPV dari cash flow sebuah aset dan menghitung lebih lanjut nilai perusahaan serta pada akhirnya harga saham yang dimilikinya.

CAPM memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan beberapa metode lain dalam menghitung pengembalian keuntungan. Berikut beberapa alasan model ini bertahan selama lebih dari 40 tahun terakhir.

  • Model ini hanya menggunakan resiko sistematis, dimana kenyataannya banyak investor yang memiliki diversifikasi portofolio
  • Secara teori, CAPM merupakan turunan dari hubungan potensi keuntungan dan resiko sistematis. Dimana banyak terbukti secara akademis
  • Secara umum, CAPM merupakan metode yang lebih baik dalam menghitung biaya saham dibandingkan DGM atau Dividend Growth Model karena mampu membandingkan resiko pasar secara menyeluruh

Rumus CAPM

Rumus CAPM bisa dihitung dengan hubungan dari perkiraan untung dari sebuah aset dan resikonya seperti berikut:

Rumus CAPM

ERi = Prediksi untung investasi
Rf = Tingkat resiko
βi = Beta investasi
ERm = Prediksi untung pasar
(ERm – Rf) = Premi resiko pasar

Kamu sebagai seorang investor harus mendapatkan keuntungan atas setiap resiko dan waktu yang sudah kamu habiskan dalam perbandingan dengan uang yang kamu investasikan. Rf atau tingkat resiko dalam formula CAPM mewakili nilai uang. Sedangkan komponen lain dalam formula CAPM berarti resiko tambahan yang ditanggung oleh investor.

Beta investasi menghitung berapa besar resiko investasi yang akan kamu terapkan dalam portofolio di pasar investasi. Jika sebuah saham lebih beresiko dari pasar, maka nilai beta lebih dari satu. Sedangkan jika beta kurang dari satu, maka rumus tersebut akan menerapkan resiko yang lebih rendah pada portofolio kamu.

Nilai beta dari sebuah saham kemudian dikalikan dengan premi resiko pasar. Baru kemudian dijumlahkan dengan beta saham, dimana dapat memberikan investor prediksi pengembalian untuk menentukan nilai dari sebuah aset.

Cara Menghitung CAPM

Hasil yang ingin kita raih dari menghitung CAPM adalah untuk mengetahui apakah sebuah saham memiliki nilai yang seharusnya ketika resiko dan waktunya sebanding dengan hasil keuntungan di masa yang akan datang. Cara menghitung CAPM cukup mudah, kamu tinggal memasukkan semua variabel yang dibutuhkan seperti yang sudah kita bahas dalam rumus CAPM, kemudian melakukan penjumlahan untuk menentukan nilai ERi.

Berikut contoh perhitungan CAPM: saat seorang investor mengevaluasi sebuah saham yang memiliki harga Rp. 10.000 per lembar hari ini yang akan mampu membayarkan dividen sebesar 3% per tahun. Saham tersebut memiliki nilai beta saat dibandingkan dengan pasar senilai 1,3. Maka seharusnya saham tersebut memiliki resiko yang lebih besar dibandingkan pasar. Serta jika kita mengambil asumsi tingkat resiko sebesar 3% dan mengharapkan pasar untuk meningkat nilainya sebesar 8% per tahun.

Nilai perkiraan pengembalian dari saham tersebut berdasarkan perhitungan CAPM adalah 9,5%.
ERi = Rf + βi (ERm – Rf)
9,5% = 3% + 1,3 (8% – 3%)

Kemungkinan keuntungan berdasarkan CAPM dapat digunakan untuk menghitung kembali pengurangan dari dividen dan depresiasi nilai dari sebuah saham dalam sebuah kurun waktu tertentu. Jika nilai nantinya sama dengan Rp. 10.000 maka CAPM mengindikasikan saham tersebut cukup bernilai yang relatif dengan resikonya.

Nilai Beta Dalam Rumus CAPM

Dalam model ini, beta merupakan satu-satunya variabel dalam menghitung resiko dari sebuah saham. Nilai ini menghitung volatilitas relatif dari sebuah saham dan membandingkan volatilitas dari pasar secara menyeluruh. Jika harga saham bergerak sama persis dengan pasar, maka beta dari saham tersebut adalah 1. Sebagai perbandingan, jika beta dari sebuah saham adalah 1,5, maka saham akan meningkat nilainya sebesar 15% untuk setiap 10% nilai pasar yang naik. Sebaliknya jika pasar turun 10% maka saham bisa turun nilainya sebesar 15%.

Beta didapatkan dari analisa statistik saham terkait dan dibandingkan dengan pendapatan harian dari pasar dalam jangka waktu yang serupa. Perbandingan ini bisa menjadi tolak ukur dalam penentuan resiko dan keuntungan dari sebuah saham dan hubungannya dengan pasar saham terkait. Penelitian ini kemudian ditulis dalam buku “The Capital Asset Pricing Model: Some Empirical Tests”. Di dalamnya terdapat pembahasan tentang pergerakan harga dari saham-saham dalam New York Stock Exchange sejak 1931 sampai 1965.

Perhitungan menggunakan beta ini mampu menjelaskan bahwa investasi yang lebih beresiko seharusnya mampu menawarkan premi dibandingkan tingkat bebas resiko dari sebuah saham. Jumlah tingkat bebas resiko bisa dihitung dengan perkalian premi pasar saham dengan beta. Dengan kata lain, sangat mungkin mengetahui nilai individu dari CAPM, untuk menentukan nilai saat ini dari sebuah saham akan konsisten dengan potensi keuntungan yang dimilikinya.

Asumsi CAPM

Disini kamu memiliki sebuah portofolio dengan berbagai macam aset di dalamnya. Dan kamu ingin menambah aset tambahan untuk mendiversifikasi portofolio yang kamu miliki dengan harapan mengurangi resiko investasi. Jadi sangat penting untuk kamu melakukan studi tentang batas resiko dari sebuah aset dan perbandingannya dalam resiko portofolio.

Capital Asset Pricing Model atau CAPM mengukur resiko sebuah aset dan hubungannya dengan portofolio yang kamu miliki. Ia juga mempertimbangkan tingkat pengembalian dari saham dan kontribusinya dalam resiko portofolio secara keseluruhan. Dalam CAPM, hanya resiko sistematis yang bisa menentukan nilai pengembalian dari aset terkait. Berikut beberapa asumsi batasan dalam perhitungan CAPM.

1. Perhitungan Investor

Kamu pada dasarnya harus perhitungan. Karena itu diversifikasi sangat penting untuk mengurangi resiko investasi secara keseluruhan. Terlebih CAPM hanya menggunakan resiko sistematis dalam perhitungannya.

2. Memaksimalkan modal sebaik mungkin

Kamu harus memaksimalkan kekayaan, alih-alih hanya bergantung pada nilai aset dan dividen. Memang ada investor yang memilih antara keduanya dengan berbagai pendapat masing-masing.

Walaupun begitu ada investor yang memilih mengambil resiko yang besar dengan potensi keuntungan yang juga besar. Namun kamu bisa menjadi seorang investor yang memperhatikan resiko dengan tetap melihat peningkatan keuntungan yang terhitung.

3. Pilihan perhitungan resiko dan keuntungan

Kamu berinvestasi berbasis pada resiko dan pengembalian. Resiko dan untung dapat dihitung menggunakan CAPM dengan asumsi investor hanya menggunakan resiko sistematis.

4. Ekspektasi resiko dan keuntungan yang sama

Semua investor memiliki ekspektasi resiko yang sama dalam penggunaan model ini. Estimasi resiko dan keuntungan yang berbeda bisa menghasilkan prediksi nilai aset yang berbeda pula.

5. Waktu yang seharusnya

Dalam menggunakan model ini, kamu harus menerapkan waktu beli dan jual yang serupa. Walaupun sebenarnya banyak investor yang berinvestasi dalam jangka pendek. Ada banyak faktor yang mempengaruhi termasuk karakteristik tertentu dari sebuah aset. Sehingga seringkali nilai sebuah aset bisa berbeda dalam waktu yang tidak seharusnya.

6. Akses bebas ke semua informasi yang tersedia

Salah satu asumsi penting dari CAPM yaitu investor memiliki semua akses informasi dengan gratis. Apabila ada investor yang bisa mendapatkan akses informasi yang tidak tersedia bagi khalayak ramai, pasar tetap tidak menganggap informasi tersebut efisien. Dengan kata lain, jika informasi yang tersedia tidak diketahui semua orang, akan sulit untuk mengambil keputusan bersama.

7. Ada aset bebas resiko dan tidak ada batasan dari pinjaman dalam tingkat bebas resiko

Ini juga merupakan asumsi yang sangat penting dari CAPM. Aset bebas resiko pada dasarnya muncul dari teori Markowitz. Hasilnya, investor tidak memperhatikan karakter dari aset secara individu. Dengan menambah aset bebas resiko dalam portofolio kamu dan melakukan pinjaman yang dibutuhkan dengan tingkat bebas resiko, resiko pastinya akan berkurang atau meningkat.

8. Tidak adanya perhitungan pajak atau biaya transaksi

Saat tidak ada aset bebas resiko, maka hubungan antara resiko dan keuntungan tidak pernah ada.

9. Ketersediaan aset tetap

Asumsi ini mengatakan bahwa kuantitas aset total adalah tetap dan semuanya dipasarkan. Ada model yang dikembangkan untuk menggunakan aset yang tidak dipasarkan, namun jauh lebih kompleks dari CAPM.

Teori CAPM

seorang pria melakukan analisis

Ada beberapa asumsi CAPM acap kali tidak praktis untuk digunakan dalam banyak kasus. Walaupun begitu, CAPM tetap banyak digunakan karena tidak rumit dan kemudahannya dalam membandingkan alternatif aset yang kamu butuhkan.

Resiko dapat dihitung dari harga volatilitas sebuah saham, lewat nilai beta. Namun, pergerakan naik turunnya harga bisa jadi tidak sama. Saat kita menentukan nilai volatilitas, keuntungan saham dan tingkat kerugiannya tidak memiliki nilai yang serupa.

CAPM juga mengasumsi tingkat bebas resiko tetap sama dalam periode yang akan datang. Peningkatan dari tingkat bebas resiko bisa berarti peningkatan modal yang dibutuhkan dalam investasi, yang mengakibatkan harga saham diatas nilai seharusnya.

Portofolio pasar yang kamu gunakan untuk menentukan premi resiko pasar hanya teoritis belaka dan bukan berupa aset yang dapat kamu beli atau investasikan. Dalam banyak kasus, investor akan menggunakan Indeks LQ45 atau Jakarta Islamic Index (JII) sebagai pengganti pasar. Dimana merupakan perbandingan yang kurang tepat.

Kritik paling serius yang dilayangkan terhadap CAPM ada pada asumsi cash flow yang bisa diprediksi. Jika investor benar-benar bisa memprediksi nilai keuntungan sebuah perusahaan dengan sangat akurat, maka model CAPM sudah tidak diperlukan lagi.

Walaupun ada banyak kritik, jika kita memanfaatkan model ini dengan seharusnya, kamu tetap bisa menggunakan CAPM sebagai alat untuk menilai ekspektasi dari sebuah aset maupun melakukan perbandingan antar potensi aset.

Penerapan CAPM

Bayangkan jika kamu ingin menambahkan sebuah saham dalam portofolio kamu dengan harga Rp. 100.000. Kamu bisa menggunakan model ini untuk menentukan nilai saham tersebut dan memprediksi keuntungan yang bisa diperoleh. Misalnya keuntungan tahunannya sebesar 13%. Keuntungan tersebut nantinya dapat kamu bandingkan dengan performa perusahaan yang lalu dan perhatikan jika ekspektasi tersebut cukup realistis. Kemudian kamu bisa mempertimbangkan keuntungan saham sebesar 13% ini beserta resikonya untuk masuk dalam portofolio yang kamu miliki.

Kamu juga bisa melihat konsistensi dari sebuah saham. Jika lewat model CAPM menghasilkan keuntungan sebesar 13%, namun dalam beberapa tahun terakhir terus berada di bawah ekspektasi, sebesar 10%, maka kamu tidak bisa berharap tahun ini segala sesuatu akan berbeda, karena ada saja variabel yang tidak terukur untuk dimasukkan dalam model CAPM.
Kamu juga bisa menggunakan teori CAPM untuk mengevaluasi performa portofolio dan saham dibandingkan dengan pasar saat ini. Contohnya, asumsikan portofolio kamu memiliki keuntungan 10% per tahun dalam 3 tahun terakhir dengan resiko 10%. Namun pasar rata-rata memiliki pengembalian 10% dengan resiko 8%.
Kamu disini sebagai pemilik portofolio bisa menggunakan observasi untuk mengevaluasi kembali aset yang kamu miliki. Jika beberapa aset ternyata memiliki performa dibawah rata-rata atau malah meningkatkan resiko portofolio secara keseluruhan, kamu bisa mengambil keputusan untuk menggantinya dengan aset yang memiliki performa yang lebih baik.

Kesimpulan

CAPM adalah model yang bisa digunakan untuk menentukan nilai dari sebuah saham dan perbandingan dengan harga saat ini. Ada banyak asumsi dalam CAPM mulai dari kebiasaan investor, distribusi resiko dan pengembalian, serta fundamental pasar yang kadang kali tidak realistis. Walaupun begitu, konsep CAPM tetap bisa digunakan untuk mengetahui hubungan dari prediksi resiko dan keuntungan untuk pengambilan keputusan dalam memasukkan sebuah aset ke portofolio yang kamu miliki.

Model ini menerapkan teori mudah untuk menghasilkan hasil yang praktis. Teori Capital Asset Pricing Model mengatakan bahwa alasan satu-satunya seorang investor untuk mendapatkan penghasilan tambahan, secara rata-rata, adalah dengan berinvestasi dalam satu aset yang lebih beresiko. Tidak mengejutkan memang, model CAPM mendominasi teori finansial modern. Namun apakah teori ini berhasil diterapkan di dunia nyata?

Masih abu-abu. Terutama dalam variabel beta. Hubungan linier antara beta dan aset individu juga hilang dalam periode waktu tertentu. Hal ini membuktikan CAPM bisa saja salah.

Dengan adanya fakta tersebut, CAPM tetap digunakan oleh komunitas investasi. Kamu tetap bisa berasumsi bahwa aset dengan nilai beta tinggi akan bergerak lebih banyak dibandingkan pasar, begitu pula sebaliknya.

Ini penting bagi investor, terutama manajer reksadana karena mereka memiliki pilihan lain dalam bentuk saham dengan nilai beta rendah. Termasuk kamu juga bisa berinvestasi dalam saham dengan beta lebih dari 1 saat pasar sedang naik dan beta kurang dari 1 saat pasar sedang jatuh.

Tidak mengejutkan lagi bahwa CAPM berkontribusi dalam peningkatan penggunaan portofolio. Terlebih dengan fakta bahwa jika ingin mendapatkan keuntungan lebih, maka resiko juga harus ditingkatkan.

Capital Asset Pricing Model adalah teori buatan manusia. Teori ini tidak sempurna. Namun semangatnya sama. Kamu bisa menggunakan model ini untuk mengukur pengembalian keuntungan dari sebuah aset, berbanding dengan resiko yang kamu tanggung semasa periode investasi yang direncanakan.

Sumber Daya Tambahan

More To Explore

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *